Pemilu

Peta Politik Pilpres 2024 di Madiun Raya, Ini Kata Pengamat

Oleh: Ahmad Yusron Fatahi Editor: Imam Malik 28 Nov 2023 - 16:23 Madiun
Peta Politik Pilpres 2024 di Madiun Raya, Ini Kata Pengamat
Program Dialog Programa 1 RRI Madiun dengan tema ‘Membaca Peta Politik Pilpres 2024 di Madiun Raya’ bersama tiga tim Capres-Cawapres dari Kota Madiun, Pacitan, Ngawi dan Pengamat politik, Selasa (28/11/2023)

KBRN, Madiun: Pemilu Presiden dan Wakil Presiden 2024 menjadi Pemilu yang menarik dibandingkan dua Pemilu sebelumnya karena menghadirkan tiga pasangan calon dan tanpa diikuti petahana. 

Berbagai strategipun dilakukan oleh masing-masing tim Capres dan Cawapres 2024 termasuk di daerah, seperti Madiun dan sekitarnya.

Pengamat politik dari Universitas Muhamamadiyah Ponorogo Ayub Dwi Anggoro, mengatakan setidaknya ada 3 hal yang harus diperhatikan oleh paslon dan tim kampanye di daerah dalam proses pemenangan agar efektif.

Baca juga: Hari Pertama Kampanye, Ini Kata Para Tim Capres-Cawapres Daerah di Madiun Raya

Pertama, soal komitmen Capres dan Cawapres untuk melaksanakan Pemilu yang adil dalam rangka  meningkatkan kualitas Demokrasi. Belajar dari pengalaman sebelumnya, kata Ayub komitmen akan menjadi pagar.

“Semua calon harus siap menang, siap kalah dan legowo dengan hasil Pemilu hingga akar rumput. Karena jika tidak legowo ini berbahaya terhadap demokrasi kita,” kata Ayub, saat Dialog dengan RRI Madiun dengan tema ‘Membaca Peta Politik Pilpres 2024 di Madiun Raya’ bersama tiga tim kampanye dan pemenangan Pilpres masing-masing dari kota Madiun, Pacitan dan Ngawi, Selasa (28/11/2023).

Yang kedua, kata Dekan FISIP UMPO itu bahwa tim kampanye di daerah harus mampu menerjemahkan gagasan dari pusat menjadi isu lokal yang bersentuhan langsung dengan masyarakat.

“Jangan hanya menarasikan isu nasional, jika memang perubahannya di daerah itu apa dan misal melanjutkan itu ya apa,” paparnya.

Yang ketiga Ayub melihat pada realitasnya masih ada ketidaksolidan partai koalisi pengusung antara di pusat dan di daerah. Hal itu menurutnya bisa menjadi kendala dalam menggerakkan mesin partai.

“Harus mampu mengkolaborasikan antara partai koalisi di nasional dan di daerah, karena kadang-kadang ini tidak solid,” ujarnya.

Selain itu Ayub menegaskan, para tim harus mampu mendelivery karakter kepemimpinan masing-masing pasangan dengan baik kepada publik.

“Jangan hanya pertarungan image negatif. Saya berharap karakter itu muncul dengan gagasan dan program, sehingga kualitas demokrasi kita meningkat,” Ayub menandaskan.